Meskipun didukung oleh banyak artis terkenal, namun sebenarnya kekuatan utama film Laskar Pelangi bukanlah itu. Bukan pada Lukman Sardi, Tora Sudiro, Cut Mini, Slamet Rahardjo, Ikranegara, Robbie Tumewu, Mathias Muchus, Rieke Diah Pitaloka, Alex Komang, atau Jajang C. Noer, tapi pada 10 anak-anak asli Belitung yang terpilih main di film yang diangkat dari novel berjudul sama milik Andrea Hirata ini. Merekalah bintang sesungguhnya film Laskar Pelangi.

Kepolosan dan keluguan anak-anak itu sudah mulai menarik perhatian sejak awal film. Berasal dari keluarga dengan latar belakang berbeda-beda, awal pertemuan mereka terjadi saat pendaftaran murid baru di SD Muhammadiyah Belitung, sebuah sekolah yang terancam ditutup karena kekurangan murid. Pada saat itu, kebanyakan orang tua di Belitung lebih memilih menyekolahkan anaknya di SDPN Timah yang bangunan dan fasilitasnya jauh lebih bagus.

Sepuluh anak dengan keunikan masing-masing itu adalah Ikal (Zulfanny), Mahar (Verrys Yamarno), Lintang (Verdian), Kucai (Yogi Nugraha), Syahdan (M.Syukur Ramadhan), A Kiong (Suhendri), Borek (Febriansyah), Harun (Jeffry Yanuar), Trapani (Suharyadi Syah Ramadhan), dan Sahara (Dewi Ratih Ayu Safitri).

Sebagian besar senyum dan tawa yang muncul saat menonton film arahan Riri Riza ini lantaran tingkah laku dan percakapan di antara anak-anak itu yang terkesan lugu dan polos. Mulai dari adegan ketika Ikal terpaksa harus memakai sepatu berwarna pink ke sekolah, hebohnya kedatangan Harun pertama kali ke sekolah, sampai cara anak-anak itu memandang piala yang mereka raih. Begitu juga adegan saat Mahar yang sangat suka dengan seni membanggakan musik jazz kepada teman-temannya yang kemudian dibalas dengan tatapan bingung tak mengerti. Dan yang tak terlewatkan tentunya adalah saat Ikal begitu terpesona melihat kuku dan mata indah milik A Ling. Ekspresi yang ditampilkan Ikal sungguh mengundang tawa.

Sayangnya, rangkaian kejenakaan tersebut agak terganggu karena tambahan unsur komikal seperti bunga-bunga yang tiba-tiba berjatuhan di sekitar Ikal ketika terpesona dengan kuku indah A Ling. Begitu juga dengan berjatuhannya kaleng-kaleng di toko milik papanya A Ling waktu adegan Ikal merasa sangat sedih tidak bisa lagi bertemu dengan A Ling. Mungkin maksudnya ingin lebih dalam menggali tawa penonton, tapi penambahan unsur komikal seperti itu jadinya justru merusak suasana jenaka yang terbangun secara alami lewat ekspresinya Ikal.

Bisa jadi bagi sejumlah orang, unsur kejenakaan anak-anak itu menjadi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sisi keharuan dalam film produksi Miles Films ini. Adegan ‘kepergian’ sosok pendidik yang dihormati dengan diperkuat ekspresi sedih Bu Muslimah (Cut Mini) dan ketika ada seorang anak pintar yang tiba-tiba tidak bisa melanjutkan pendidikannya karena harus mengurusi adik-adiknya. Cukup mengharukan memang. Namun itu saja belum cukup untuk membuat Laskar Pelangi benar-benar menjadi film yang enak ditonton, baik bagi yang sudah berkali-kali membaca bukunya maupun yang belum sama sekali.

Masih ada beberapa hal yang cukup mengganggu kenikmatan menonton film ini. Tata cahaya kurang alami, misalnya, terlihat jelas saat Pak Harfan (Ikranagara) mengajar di dalam kelas. Dengan situasi dalam kelas di sebuah sekolah tua, pencahayaan yang tampak pada muka Pak terlihat sangat terang benderang seperti sedang disorot lampu ratusan watt. Pemandangan indah daerah Belitung juga seperti kurang maksimal digarap sebagai salah satu kekuatan film ini.

Kekurangjelasan pun terdapat di mana-mana. Salah satunya soal Flo (Marcella), murid perempuan pindahan dari SDPN Timah. Ketika baru pindah ke SD Muhammadiyah, Flo dilihatkan sebagai anak yang menonjol dengan tingkah laku dan pemikirannya yang agak aneh hingga bisa mempengaruhi anak-anak lain pergi ke sebuah pulau misterius untuk bertemu seorang dukun. Namun setelah itu, tanpa alasan yang jelas, tiba-tiba Flo jadi murid yang biasa-biasa saja. Seputar kepergian mereka ke pulau itu secara sembunyi-sembunyi juga terasa agak janggal, seperti hanya sebagai tempelan saja.

Durasi film yang sekitar 120 menit seharusnya bukan jadi halangan utama untuk bertutur lebih jelas kepada penonton film. Seharusnya berbagai kekurangjelasan yang mungkin sulit, tidak bisa, tidak mampu, atau tidak mau dijelaskan lewat gambar, bisa diatasi lewat kehadiran narasi. Sayangnya, narasi yang dibacakan oleh Lukman Sardi (berperan sebagai Ikal dewasa) hanya terdengar di awal dan akhir film saja. Itu pun tidak banyak membantu menjelaskan hal-hal yang tidak tampak di layar.

Hal lain yang agak mengurangi kenyamanan menonton adalah soal bahasa. Karena cukup banyak dialog dalam film ini menggunakan Bahasa Melayu, seharusnya ketika diputar di bioskop umum pihak pembuat film menyediakan teks Bahasa Indonesia agar penonton secara umum bisa lebih nyaman menikmati adegan demi adegan.

Yang tidak kalah mengusik adalah ketika di akhir film diceritakan Ikal kembali ke Belitung setelah bertahun-tahun pergi dari situ. Anehnya, ia terlihat hanya bertemu dengan Lintang saja. Padahal katanya Ikal kepulangannya ingin berterima kasih kepada teman-temannya atas keberhasilannya mendapatkan beasiswa ke Prancis. Di mana teman-temannya yang lain? Apa kabar sekolah mereka tercinta dulu? Apa kabar Bu Muslimah? Bagaimana hubungan Bu Muslimah dengan Pak Mahmud (Tora Sudiro)? Tanpa ada keterangan apa-apa lagi, layar pun seperti buru-buru ditutup dengan flash back saat mereka nyanyi bersama di sekolah dulu.

Entah kenapa yang terasa adalah awalnya film ini berjalan agak lambat kemudian mendekati selesai justru seperti melompat-lompat ingin segera usai. Mungkinkah akan ada versi extended, atau director’s cut, atau bahkan remake dari film yang sebenarnya punya modal dasar untuk bisa tampil lebih menarik ini? Ditunggu. 🙂

(Thanks buat Pakerte atas traktiran menonton film ini.)

Catatan: posting ini sudah pernah dimuat di Benny Chandra dot com.