Dari awal film, John Hancock (Will Smith) sudah langsung digambarkan sebagai seseorang yang memiliki kekuatan super, bisa terbang, sering menolong aparat kepolisian dan masyarakat (meskipun agak ogah-ogahan). Namun di sisi lain Hancock adalah seorang pecandu minuman beralkohol, gampang naik darah, ugal-ugalan, sarkastik, dan kurang ramah. Oh ya, satu lagi. Saat ‘bertugas’, ia tidak punya seragam seperti kebanyakan superhero lainnya.

Setiap kali Hancock beraksi dengan kekuatan supernya untuk menolong aparat atau anggota masyarakat, selalu ada saja kekacauan yang ditimbulkannya. Lantaran sikap ugal-ugalan itu, Hancock bukannya disukai malah dibenci oleh penduduk Los Angeles. Semua itu jelas merupakan kombinasi yang agak berbeda dibanding superhero pada umumnya.

Suatu ketika, Hancock menyelamatkan Ray (Jason Bateman) dari tabrakan kereta api. Ray adalah seorang praktisi public relation yang kurang berhasil memasarkan konsep amal AllHeart-nya. Kebetulan selama ini Ray mengamati sepak-terjang Hancock yang sikapnya kurang diterima oleh masyarakat. Apalagi anaknya adalah seorang penggemar Hancock. Ia pun menawarkan jasa public relation untuk mengubah citra negatif Hancock di mata masyarakat menjadi positif.

Tawaran itu diterima oleh Hancock dengan ogah-ogahan. Berbagai langkah disiapkan Ray untuk ‘memoles’ Hancock. Mulai dari mengajari sopan santun dalam bersikap dan berbicara hingga menyiapkan seragam yang cocok buat Hancock. Meskipun awalnya pesimis, namun akhirnya Hancock harus mengakui bahwa apa yang dilakukan Ray berhasil mengubah pandangan masyarakat terhadap dirinya.

Sementara itu, di sisi lain, sejak pertama kali bertemu dengan Mary (Charlize Theron), istrinya Ray, Hancock merasakan ada getaran-getaran aneh. Belakangan terkuak bahwa memang selama ini Mary menyimpan sebuah rahasia besar tentang dirinya yang masih ada hubungannya dengan identitas Hancock yang selama ini kurang jelas.

Secara keseluruhan, sebagai film superhero baru, Hancock cukup berhasil mencuri perhatian di sela-sela serbuan film-film unggulan musim panas tahun ini. Meskipun menawarkan cerita soal superhero urakan dengan balutan komedi yang cukup kental, tidak membuat film yang disutradarai Peter Berg ini terjebak menjadi sebuah film konyol yang digarap asal-asalan.

Lihat saja, walaupun tidak begitu sempurna, namun detil dan alur ceritanya cukup diperhatikan oleh Vince Gilligan dan Vincent Ngo sebagai penulis cerita. Permainan Will Smith sebagai Hancock juga terasa pas dan susah untuk membayangkan perannya diisi oleh nama lain. Tidak demikian dengan tokoh Mary yang diperankan oleh Charlize Theron. Peran sebagai istrinya Ray rasanya tidak masalah kalau mau diberikan kepada nama lain. Jessica Biel atau Scarlett Johansson, misalnya.

Sayangnya ada beberapa hal yang patut disayangkan dari film ini. Salah satunya adalah penggunaan hand-held camera yang membuat beberapa adegan jadi kurang enak ditonton karena efek goyangnya terlalu berlebihan. Lihat saja adegan Ray menawarkan konsep AllHeart-nya di ruang rapat. Entah apa tujuannya menghadirkan gambar yang goyang untuk sebuah adegan presentasi. Ganggu banget pastinya.

Dan seragam yang akhirnya dipakai oleh Hancock menjadi salah satu faktor yang menghilangkan perbedaannya dengan superhero lain, di samping sikapnya yang tidak urakan lagi. Apalagi seragamnya itu mirip banget dengan seragamnya Wolverine dari X-Men (disentil dalam adegan bonus). Tidak jelas pula bagaimana Ray bisa mendapatkan bahan anti peluru untuk membuatkan seragam itu.

Ujung-ujungnya, setelah ‘dipoles’ oleh Ray, akhirnya Hancock pun tampil tidak jauh berbeda dengan superhero lain pada umumnya, punya seragam dan tidak urakan tapi kehilangan ciri khasnya. Ini bisa jadi pelajaran bagi superhero baru agar kalau ditawari jasa public relation harus minta sekalian satu paket dengan marketing-nya agar aspek diferensiasi tidak terlupakan. 🙂