Ketika film Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull ini diawali dengan adegan yang berlokasi di sebuah jalan raya daerah gurun pasir Nevada dan kemudian berlanjut di area terlarang Hangar 51 dengan berlatar belakang tahun 1957, sempat muncul harapan petualangan Indiana Jones (Harrison Ford) kali ini bakal sangat mengesankan dan penuh kejutan baru setelah ‘menghilang’ hampir 20 tahun sejak film Indiana Jones and the Last Crusade dirilis tahun 1989 silam.

Adegan kejar-kejaran di dalam hangar antara Indy dan gerombolan komunis Rusia yang dipimpin Irina Spalko (Cate Blanchett) yang berlangsung cukup seru dan menghibur semakin memperkuat harapan itu. Ditambah lagi dengan adegan tersesatnya Indy ke kawasan percobaan bom nuklir. Indy yang selamat karena sempat bersembunyi di dalam kulkas pun harus menjalani pembersihan tubuhnya dari radiasi nuklir. Proses pembersihan tubuhnya berlangsung cukup menggelikan. Sampai di sini semuanya berjalan lancar dan masih menarik untuk dinikmati sebagai kisah terbaru dari tokoh legendaris bernama lengkap Dr. Henry “Indiana” Jones Jr.

Namun harapan tadi mulai pupus ketika film ini bergulir ke bagian selanjutnya, ditandai dengan pertemuan tiba-tiba Indy dan Mutt Williams (Shia LaBeouf) yang belakangan diketahui sebagai anak kandungnya. Dan harapan itu semakin menipis saat melihat mereka memaksakan membawa motor gedenya Mutt dengan pesawat kecil terbang ke Peru untuk menemukan Harold Oxley (John Hurt), teman lama Indy yang hilang saat menemukan tengkorak kristal. Padahal begitu tiba di lokasi, moge itu bisa dibilang tak ada gunanya.

Hingga akhir film, semakin lama semakin terasa bahwa sekuel keempat Indiana Jones ini seperti dipaksakan datang kembali dengan mengusung potongan-potongan cerita dari sederet film lain berbau arkeologi yang justru disebut-sebut terinspirasi dari tiga film Indiana Jones sebelumnya. Bahkan adanya sejumlah kejanggalan di sana-sini semakin mengurangi sisi menarik film ini.

Sudah begitu, kemunculan Marion Ravenwood (Karen Allen) yang merupakan ibu dari Mutt semakin melengkapi kemiripan keluarga di film ini dengan keluarga di The Mummy Returns (2001) yang juga terdiri dari ayah (Rick), ibu (Evie), dan anak (Alex). ‘Hobi’ Indy dan Marion yang kadang-kadang suka ribut sendiri juga mirip dengan ‘hobi’ pasangan Rick dan Evie. Bahkan kalau di The Mummy Returns ada tokoh bernama Jonathan yang suka emas dan permata, maka di Indiana Jones 4 ini juga ada Mac (Ray Winstone), teman lama Indy yang berkhianat karena tergiur harta. Tengok dan bandingkan juga saat mereka berhasil lolos dari ledakan gua menjelang akhir film.

Seharusnya film Indiana Jones 4 yang masih tetap diarahkan Steven Spielberg ini lebih cocok jika diluncurkan sekitar 10 tahun lalu, saat belum banyak bermunculan film-film bertema arkeologi seperti The Mummy (1999), The Mummy Returns (2001), Lara Croft: Tomb Raider (2001), The Da Vinci Code (2006), dan National Treasure (2004). Dengan demikian walaupun yang ditawarkan adalah cerita seputar mumi, alien, bahkan UFO, penonton tidak akan menilai mereka yang berada di balik pembuatan film Indiana Jones kali ini kekurangan ide cemerlang karena tidak peduli kalau semua ide itu sudah pernah diusung film lain. Penonton mungkin hanya akan memaklumi penampakan alien yang sekilas mirip dengan sosok alien yang ada di E.T.: The Extra-Terrestrial (1982), film yang juga disutradarai Steven Spielberg.

Mengembalikan serta mempertahankan kejayaan Indiana Jones tidak cukup hanya dengan mengandalkan romantisme dan nostalgia penonton terhadap petualangan masa lalu sang jagoan atau nama besar George Lucas, Steven Spierlberg, dan Harrison Ford saja. Tidak cukup juga dengan kehadiran Shia LaBeouf sebagai anak Indy yang aktingnya terkesan rada kaku dan kurang pas disandingkan dengan aksi Harisson Ford yang masih cukup memukau itu.

Sudah begini, masih tetap nekat membikin sekuel Indiana Jones selanjutnya? Tidak perlu memaksa deh… 🙂

Overall: